terjemah

Sabtu, 11 Maret 2023

Mojokerto dalam sejarah perang bubat

 

PERANG BUBAT

Perang Bubat terjadi pada tahun 1357 M, semua ini berawal dari keinginan kerajaan Majapahit menjalin hubungan diplomasi dengan kerajaan Sunda, Keinginan tersebut sejalan dengan Hasrat Hayam wuruk untuk mempersunting Dyah Pitaloka Citraresmi. Pihak Sunda Raja Linggabuana menanggapi ajakan tersebut sebagai bentuk persekutuan. Kerajaan Sunda, mereka merasa terhormat atas rencana pernikahan ini. Sang Raja dengan senang hati menyetujui Hayam Wuruk untuk melamar putrinya. Namun disisi lain Gajah Mada melihat kesedian kerajaan sunda sebagai peluang untuk mengendalikan kerajaan Sunda dibawah kekuasaan Majapahit.

Perjalanan dilakukan oleh rombongan kerajaan Sunda dan setibanya di Majapahit, mereka ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Ironinya, tempat ini nantinya menjadi akhir dari perjalanan mereka. Menurut sumber Kidung Sundayana, Gadjah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit, memiliki niat untuk menguasai Kerajaan Sunda. Sumpah Palapa yang bertujuan untuk menyatukan wilayah nusantara di bawah naungan Majapahit, menjadi ambisi dan motivasi besar bagi Gadjah Mada untuk menaklukkan Sund sehingga seluruh Jawa berada dikuasa Majapahit.

Perjalanan rombongan Sunda ke Majapahit ia anggap sebagai bentuk tunduk Kerajaan Sunda menjadi bawahan Kerajaan Majapahit. Ditambah lagi, Gadjah Mada beranggapan bahwa Dyah Pitaloka bukan lagi dilihat sebagai calon pengantin Hayam Wuruk, melainkan objek penyerahan diri. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk berpikir demikian dan mengambil kesempatan untuk menunjukkan superioritas Majapahit atas Sunda. Karena Gadjah Mada adalah mahapatih yang diandalkan saat itu, Hayam Wuruk mulai bimbang. Desas desus kabar ini berhasil didengar oleh utusan Linggabuana. Mereka tidak terima bahwa kedatangan mereka justru dianggap sebagai tanda tunduk akan Majapahit, bukan karena niat baik pernikahan politik. Lapangan Bubat menjadi saksi pertarungan tragis tidak dapat dihindari yang dikenal sebagai “Perang Bubat”. Kerajaan Sunda yang tidak mampu mengimbangi kekuatan Mjapahit dapat dengan mudah dipukul mundur, akibat dari pertempuran tersebut seluruh pasukan kerajaan Sunda wafat hanya menyisakan Dyah Pitaloka Citraresmi. Sang putri yang menyaksikan ayahandanya terbunuh dalam medan perang segera melepas patrem atau tusuk kondenya dan menikam ke jantungnya. Ia lebih memilih bela pati atau bunuh diri demi kehormatan bangsanya daripada harus tunduk ke Majapahit.

Pasca peritiwa tersebut Hayam Wuruk menikah dengan Paduka Sori anak dari Bhre Wengker Wijayarajasa. Pada tahun 1364 Patih Gajah Mada wafat setelah mengabdi 30 tahun di Majapahit.

Senin, 09 Desember 2013

sejarah kota mojokerto


SEJARAH
Pembentukan Pemerintah Kota Mojokerto melalui suatu proses kesejahteraan yang diawali melalui status sebagai staadsgemente, berdasarkan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda Nomor 324 Tahun 1918 tanggal 20 Juni 1918.
Pada masa Pemerintahan Penduduk Jepang berstatus Sidan diperintah oleh seorang Si Ku Cho dari 8 Mei 1942 sampai dengan 15 Agustus 1945.
Pada zaman revolusi 1945 - 1950 Pemerintah Kota Mojokerto di dalam pelaksanaan Pemerintah menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan diperintah oleh seorang Wakil Walikota disamping Komite Nasional Daerah.
Daerah Otonomi Kota Kecil Mojokerto berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950, tanggal 14 Agustus 1950 kemudian berubah status sebagai Kota Praja menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.
Setelah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 berubah menjadi Kotamadya Mojokerto. Selanjutnya berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.
Selanjutnya dengan adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto seperti Daerah-Daerah yang lain berubah Nomenklatur menjadi Pemerintah Kota Mojokerto.

MAKANAN KHAS
makanan khas kotamojokerto yaitu onde-onde